Jumat, 29 Maret 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Perkenalkan nama saya Mulia Tentris Luthfia Ervin CGP Angkatan 10 dari SD N 2 Eromoko Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Jurnal refleksi dwimingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Hal ini menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya. Penyampaian mengenai jurnal dwimingguan modul 1.1.A tentang Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Tugas ini dibuat untuk merefleksikan semua pengalaman dan ilmu yang diterima selama 2 minggu. Saya mencoba merefleksikan modul 1.1 tentang "Filosofi Ki Hadjar Dewantara". Pembuatan jurnal ini menggunakan model 1 yaitu 4F yang mencakup: 1) Fact; 2) Feeling; 3) Findings; dan 4) Future.

1.     FACTS (Peristiwa)

Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya dinyatakan lolos dan diberi kesempatan untuk mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10. Pada hari Jum’at 15 Maret 2024 CGP Angkatan 10 resmi dibuka oleh Kemendikbudristek. Pembukaan juga diisi oleh Kepala Balai Guru Penggerak. Beliau menyampaikan bahwa selama mengikuti diklat guru penggerak diharap para CGP jangan sampai berhenti di tengah jalan karena Bapak/Ibu adalah guru-guru pilihan dan tetap menjaga profesionalitas sebagai pendidik. Pada tanggal 24 Maret 2024 diadakan lokakarya orientasi secara luring di SMA N 3 Wonogiri dari pukul 08.00 s.d. 15.15 WIB. Kegiatan ini didampingi PP (Pengajar Praktik),dihadiri pengawas dan kepala sekolah tempat CGP mengajar. Dalam lokakarya tersebut membuat hati saya bahagia karena  mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang perjalanan Pendidikan Guru Penggerak sehingga diharapkan dapat memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi sehingga saya dapat melaksanakan Pendidikan Guru Penggerak ini dengan baik. Pengalaman saya mengikuti kegiatan CGP selama dua minggu ini yaitu pertama mengikuti lokakarya orientasi. Saat lokakarya orientasi saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman tentang pendidikan guru penggerak. Kemudian setelah itu mengikuti kegiatan secara online di LMS. Mulai dari diri sendiri saya merefleksi pemikiran KHD. Kemudian eksplorasi konsep berdiskusi bersama fasilitator Ibu Susi Sudarti dan CGP lainnya mengenai filosofi KHD. Selanjutnya pada ruang kolaborasi saya bersama teman-teman saling berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai filosofi KHD serta penerapannya di sekolah. Terakhir mengiktui kegiatan elaborasi pemahaman bersama instruktur Bapak Suhada. Kegiatan elaborasi ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman yang disampaikan instruktur dan teman-teman CGP lainnya.

Lokakarya Orientasi 

Ruang Kolaborasi 1

Ruang Kolaborasi 2

Koneksi Antar Materi bersama Instruktur, Fasilitator dan Pengajar Praktik


2.     FEELING (Perasaan)

 Selama dua minggu mengikuti program PGP ini, banyak sekali hal yang saya rasakan. Haru, senang, galau, bahagia, semua bercampur menjadi satu dan memberikan semangat dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini. Kegiatan ini saya dapat dipertemukan dengan orang-orang hebat dan pilihan, karena untuk menjadi bagian dari PGP ini orang harus melewati serangkaian kegiatan, ujian dan lain sebagainya yang tidaklah mudah. Mereka para orang hebat tersebut adalah, para fasilitator, pengajar praktik dan juga semua rekan-rekan CGP. Banyak ilmu Pengetahuan yang saya dapatkan selama menjalani proses ini seperti pemikiran KHD tentang Pendidikan, kodrat alam dan kodrat zaman, pengajaran yang menuntun, guru yang menghamba pada murid dll. Seluruh rangkaian yang ada di dalam LMS membuat saya merasakan bahwa apa yang saya lakukan tentang Pendidikan masih sangat jauh dari yang diharapkan dengan tujuan Ki Hajar Dewantara. Saya merasa senang bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang filosofi KHD. Saat menerapkan filosofi KHD dalam pembelajaran mengalami perubahan yang lebih baik pada diri murid-murid. Misalnya dahulu saya banyak melakukan pembelajaran konvensional. Sekarang lebih berpusat pada murid. Murid merasa senang karena pembelajaran lebih menarik dan tidak jenuh serta banyak inovasi dan kreatifitas yang muncul dalam pembelajaran. Semangat murid dalam mengikuti pembelajaran baik kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler semakin meningkat. Saya merasa bangga karena menjadi bagian dari guru-guru hebat di seluruh Indonesia dan banyak imu baru Angkatan 10 serta fasilitator dan instruktur. Banyak hal yang saya dapat untuk bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas saya.

 

3.      FINDINGS (Pembelajaran)

Pengalaman yang berharga yaitu mendapatkan ilmu tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran KHD tersebut menyatakan bahwa tugas guru disini adalah menuntun anak pada kodrat alam dan korat zaman sehingga bisa tumbuh dan berkembang sesuai minat, bakat dan potensi yang dimiliki murid. KHD juga menyampaikan bahwa pendidikan harus menghamba pada murid. Artinya pembelajaran harus berpusat pada murid. Murid harus merasa bahagia dan menyenangkan dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran yang kreatif dan inovatif bisa membuat murid merasa lebih termotivasi dan semangat sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Selain itu pemikiran KHD dalam pengembangan budi pekerti (olah cipta, olah karya, olah karsa, dan olah raga) dan filsafat pendidikan Ing ngarso sung tuladho (maka orang tua atau guru sebagai suri tauladan anak dan siswa), Ing madya mangun karso (yang ditengah memberikan semangat ataupun ide-ide yang mendukung) dan Tut wuri handayani (yang dibelakangan memberikan motivasi) membuat saya lebih termotivasi untuk mengembangkan bakat dan potensi murid lebih maksimal dan tidak lupa memberikan pengetahuan budi pekerti sebagai bekal hidup murid bermasyarakat yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri , bernalar kritis dan kreatif.

 

4.      FUTURE (Penerapan)

 Penerapan yang saya lakukan setelah belajar banyak hal tentang pemikiran KHD. Saya menyadari bahwa banyak sekali yang perlu saya perbaiki Kelemahan-kelemahan ini mulai saya benahi untuk menerapkan pembelajaran sesuai dengan filosofi dan pemikiran KHD seperti kodrat alam dan kodrat zaman, pengembangan budi pekerti, dll. Penerapan ini juga saya dapat dari hasil diskusi dengan fasilitator, instruktur, dan rekan CGP Angktan 10 yang lain yang banyak berdiskusi mengenai pengalaman dalam penyelesaian tantangan dalam penerapan filosofi KHD ini disekolah. Beberapa pengalaman baik dan hasil diskusi penyelesaian tantangan dalam penerapan filosofi KHD mulai saya terapkan misalnya pembelajaran yang berpusat pada murid, pembelajaran kreatif, inovatif dan menyenangkan sesuai dengan kodrat alam dan zaman murid SD yang masih masa bermain. Pembelajaran yang juga sesuai dengan kodrat zaman seperti penggunaan media yang interaktif dan menggunakan kemajuan teknologi dalam pembelajaran tidak luput juga saya terapkan. Pembelajaran dikelas juga tetap mengembangkan budi pekerti (olah cipta, olah karya, olah karsa, dan olah raga). Pembelajaran yang berbasisis pembiasaan dan penguatan karakter juga saya ajarkan seperti beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Beberapa contoh dari kegiatan penguatan karakter adalah membaca hafalan surat pendek sebelum pembelajaran dimulai, berdoa saat membukan dan menutup pembelajaran, kegiatan diskusi yang mengembangkan kerja sama dan gotong royong antar sema teman dll. Selain penerapan dalam pembelajaran di kelas penenerapan pemikiran KHD ini juga dilakukan diluar kelas. Pembiasaan pagi hari setiap hari senin dan hari besar nasional diadakan upacara bendera sebagai wujud cinta tanah air. Selain itu ada kegiatan apel pagi sebelum pembelajaran dimulai dan ada amanat yang disampaikan bapak ibu guru kepada murid. Kegiatan Jumat sehat seperti senam dan jalan sehat menjadi kegiatan rutin. Jalan sehat iniselain bertujuan untuk kebugaran atau olah raga juga sebagai sarana murid belajar karena diajak belajar dari alam karena jalan sehat mengambil rute area persawahan yang disitu banyak hal yang bisa didapat murid seperti belajar pertanian, IPA, sikap pekerja keras dan tidak mudah putus asa dari petani dll. Membersihkan lingkungan sekolah setiap pagi karena kebersihan lingkungan sekolah tanggung jawab semua warga sekolah. Selain itu masih ada kegiatan ektrakurikuler yang dilaksanakan melalui kegiatan Pramuka, olahraga, dan seni. Banyak hal yang diterapkan disana sebagai misal kegiatan pramuka yang bisa melatih siswa belajar dari alam, kekompakan, kerja sama, budi pekerti, dll. Kegiatan olahraga juga dikembangan sebagai wadah untuk meningkatkan kesehatan dan bakat serta potensi siswa. Kegiatan seni Tari dan Rupa dilakukan untuk meningkatan rasa siswa supaya lebih lembah lembut dalam bersikap serta kerja sama dan terampil. Demikian perapan yang bisa saya sampaikan. Sekian yang saya dapat sampaikan dalam pemaparan jurnal dwimingguan modul 1.1.A tentang Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Semoga bermanfaat untuk readers.

 

Salam dan Bahagia!😊


Mulia Tentris Luthfia Ervin

SD N 2 Eromoko

CGP Angkatan 10


Minggu, 17 Maret 2024

Mulai dari Diri - Modul 1.1 (PGP)

 1.  Tulisan Reflektif Kritis

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah penyaluran segala sifat yang ada pada diri anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sebesar-besarnya sebagai manusia dan anggota masyarakat.

Menurut Ki Hajar Dewantara, mengajar merupakan bagian pendidikan dengan cara membebaskan anak dari kebodohan dan memberikan dampak positif bagi kehidupan jasmani dan rohani anak.

Ki Hajar Dewantara terkenal dengan falsafah ajarannya “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,”  yang artinya  di depan memberi contoh yang baik, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Dari pemikiran bapak pendidikan nasional tersebut dapat kita simpulkan bahwa yang terpenting dalam pendidikan adalah guru.

Tempat di mana guru dapat membantu anak-anak atau peserta didik untuk berhasil.

Menghasilkan pendidikan yang berkualitas harus dimulai dari guru yang berkualitas.

Melihat situasi pendidikan Indonesia saat ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara relevan dengan pendidikan Indonesia saat ini.

Inilah tujuan pendidikan nasional, yaitu mewujudkan manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis.Menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Namun karena rumitnya permasalahan pendidikan di Indonesia, pemikiran Ki Hajar Dewantara sebenarnya belum sepenuhnya diterapkan dalam pendidikan Indonesia saat ini.

Karena masih banyak guru yang gagal menjadi teladan yang baik, kuatnya pengaruh budaya asing membuat anak lebih tertarik untuk meniru budaya asing dibandingkan budayanya sendiri.

Gagasan Ki hajar Dewantara sangatlah bagus,tetapi  di sekolah tempat saya mengajar saat ini, gagasan-gagasan beliau mengenai pendidikan dan pengajaran masih belum sepenuhnya dipahami, karena sulitnya melaksanakan pendidikan yang sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara dalam situasi dan keadaan tertentu.

Meskipun saya sudah mempunyai otonomi dalam menjalankan tugas saya sebagai guru, namun saya merasa belum cukup bisa atau  sepenuhnya melaksanakan gagasan Ki Hajar Dewantara karena saya sendiri merasa masih jauh menjadi guru yang baik.

Walaupun demikian saya akan” try to do the best” akan terus berusaha sebaik mungkin menjadi guru yang baik, yang terus-menerus belajar dan meningkatkan keterampilan saya sehingga saya dapat membimbing anak-anak saya menuju keselamatan dan kesuksesan terbaik.


2Harapan dan Ekspektasi

Setelah mempelajari modul ini, saya  berharap dapat mengimplemetasikan secara utuh gagasan-gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab pemikiran Ki Hajar Dewantara sejalan dengan tujuan pendidikan Indonesia zaman ini

Dengan mempelajari materi ini,  saya ingin peserta didik dapat mencapai tingkat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.

Oleh karena itu, guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut untuk berupaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman agar siswa dapat menyerap pelajaran secara maksimal.

Kegiatan, materi, dan manfaat yang akan saya peroleh dari modul ini, membantu saya belajar dan memotivasi diri saya untuk menjadi guru yang lebih baik, serta membantu saya menjadi guru yang efektif.

Ada Quotes tentang guru yang saya ingat yaitu “

"Good teachers know how to bring out the best in students." - Charles Kuralt.

Artinya: Seorang guru yang baik akan tahu cara membangkitkan yang terbaik di dalam diri murid-muridnya.

Harapan saya, semoga saya ada dibarisan guru-guru hebat yang bisa mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

 

 

Semangat selalu Bapak/Ibu Guru hebat.

Salam Bahagia

 

 Sumber Quotes: https://www.brilio.net/wow/50-kata-kata-bijak-untuk-guru-dalam-bahasa-indonesia-dan-inggris-200917w.html

 

Mulia Tentris Luthfia Ervin

Selasa, 21 November 2023


Today...







Relate kah.....Semangat!!! Readerss....


PMM? Tambah terus?

 Assalamu'alaikum...

Gud Afternoon Readers...

Sekedar share aksi nyata PMM biar tidak hilang file nya....Lupa aksi nyata berapa ya....buat referensi saja hehe..







Jumat, 16 September 2022

AKSI NYATA TOPIK 1 MERDEKA BELAJAR

 
Sabtu 17 September 2022



 WONOGIRI_Assalamu'alaikum Wr.Wb

Salam hangat pembaca generasi emas!
Sudah Merdeka Belajar ya....?
Bebas bertindak bukan...
Eits tapi bukan itu yang dimaksud dan tujuannya.
Merdeka belajar mempunyai konsep belajar mandiri, tidak diperintah oleh guru atau orang tua. Siswa belajar mandiri karena merupakan kebutuhan masing- masing.

Kurikulum merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. 

Ki Hajar Dewantara mengartikan manusia merdeka adalah manusia yang bersandar pada kekuatan dirinya sendiri tidak bergantung kepada orang lain. Beberapa hal dalam pemahaman merdeka belajar yaitu:

1. Mengenali dan memahami Diri sebagai Pendidik
Mengenali diri kita sebagai guru baik dari segi kekuatan atau kelemhahan diri kita sebagai guru harus menggali potensi yang ada dalam diri kita terus berkembang agar dapat mendampingi murid dengan baik dan maksimal.

2.Mendidik dan Mengajar
Mengajar merupakan bagian dari pendidikan sedangkan pengajaran merupakan cara menyampaikan ilmu atau manfaat bagi hidup anak secara lahir dan batin. Mendidik dengan menuntun secara kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Manusia merdeka adalah manusia yang dapat bersandar atas kekuatan lahir dan batinnya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain

3. Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh
Cara mendidik dan mengajar harus menyelesaikan dengan kodrat keadaan alam dan kodrat perubahan zaman pada murid. Pembelajaran yang berpihak pada murid adalah dengan asas trikon (Kontinyu, konvergen, dan konsentrasi)

4. Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti
Budi pekerti adalah hasil bersatunya gerak pikiran perasaan dan kehendak sehingga menimbulkan suatu tenaga sehingga merupakan bentuk perpaduan antara cipta , rasa dan karsa. Budu pekerti murid dibentuk dari lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah.

5. Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagiaan
Mendidik adalah menuntun murid untuk selamat dan bahagia sedangkan fungsi pendidikan yang akan mengantarkan murid agar siap hidup dan memberikan kepercayaan kepada murid, bahawa di masa depan mereka akan mampu mengisi zamannya demi mencapai keselamatan dan kebahagiaan

Sebagai pendidik dapat memberikan kebebasan kepada murid mengeksplorasi kemampuan dengan bimbingan dan arahan yang tepat dari pendidik agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya sendiri sehingga anak akan terdorong untuk menemukan kemerdekaannya dalam belajar.😊

Mohon Bapak/Ibu berkenan mengisi formulir dengan klik link  atau via tautan whatsapp di bawah ini sebagai umpan balik dalam kegiatan aksi nyata " Menyebarkan Pemahaman tentang Merdeka Belajar."



Mulia Tentris Luthfia Ervin, S.Pd.
SDN 2 Eromoko



Selasa, 19 Mei 2020

DITOLAK? Apakah harus Dukun bertindak?


DITOLAK? Apakah harus Dukun bertindak?


Morning readers,

Bersama lagi kelas belajar menulis online, hari ini kita akan menyimak perjalanan Pak Jay sendiri  yaitu ketika buku di tolak penerbit. Pernah ditolak penerbit?Apakah dukun bertindak hehe. Kita simak bersama biar tahu.Hmm, itu merupakan hal yang menjadi momok awal sebagai penulis yang ingin mernerbitkan buku ya?.Kira- kira pengalaman pak Jay sendiri seperti apa, dan haruskah dukun bertindak hehe.Yuk, tanpa basa- basi kita simak tipsnya bersama.

Ketika bukumu ditolak, maka segeralah memperbaiki isi bukumu dan jangan ditunda. Perbaiki dan teruslah perbaiki, lalu pergilah ke toko buku. Lihatlah buku-buku best seller di sana. Dari situlah kamu akan bertemu rahasia buku itu laku. Kalau anda tak sempat ke toko buku, belilah buku secara online, lalu pelajari isi buku, sehingga anda menemukan rahasianya. Dari situlah anda akan bisa menerbitkan buku-buku bermutu. Anda tidak perlu mencari penerbit, karena penerbit yang akan mencari anda, karena tulisan anda sangat menginspirasi.”


Kata Pak jay, sedih rasanya bila buku yang kita tulis ditolak oleh penerbit. Ia sendiri pernah merasakannya. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Sakitnya tuh di sini! (sambil mengelus dada) hahaha. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini, hehei. Pak Jay termasuk orang yang pantang menyerah. Ketika naskah bukunya ditolak para penerbit mayor, ia tidak putus asa. Ia akan menerimanya dengan lapang dada. Ia menerimanya dengan senyuman meskipun terasa pahit.

Berkali kita gagal lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh lekas berdiri jangan mengeluh. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang telah sukses menerbitkan bukunya.

Berdasarkan pengalamannya beliau  perbaiki tulisannya. Kemudian dibacanya kembali. Beberapa teman yang dipercayanya, ia minta untuk memberikan masukan. Hasilnya, bukunya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak untuk dibaca. Sakit hatinya kala itu terasa terobati.

Menulis itu ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya dipermak habis sama dosen pembimbingnya. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak promotornya dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal desertasinya.

Pak Jay sangat berterima kasih kepada para penerbit yang sudah menolak buku yang ia susun.  Dengan begitu buku yang ia susun menjadi layak jual. Coba kalau seandainya naskah bukunya langsung diterima, pasti banyak yang tidak laku karena isinya kurang menarik hati pembaca. Bukunya terbit tapi tidak banyak pembelinya, karena bukunya tidak menarik hati pembaca.

Gagal adalah proses menuju sukses. Ya, ini salah satu kiat untuk tabah menulis.
Pak Jay jadi banyak belajar sejak buku ditolak penerbit mayor. Ia perbaiki dan terus perbaiki sehingga naskah buku menjadi lebih enak dibaca. Butuh waktu lama mengerjakannya. Ia pantang menyerah. Ia belajar dari penolakan. Ia pergi ke toko buku dan membaca buku-buku best seller. Dari sanalah ia akhirnya tahu rahasia buku mereka laris dibaca pembaca.

Saat itu Pak Jay semakin menggebu-gebu semangatnya. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun akan banyak ombak besar menghadang. Tidak ada nahkoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah keahliannya teruji.

Ketika buku Anda ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika Anda terus menulis, maka tulisan yang dihasilkan akan semakin tajam dan menendang. Pasti tulisan Anda akan layak jual. Pasti tulisan Anda akan banyak dibaca orang. Kuncinya satu, mau belajar dan pantang menyerah.

Perbaiki dan terus perbaiki sehingga penerbit mayor mau menerbitkan buku Anda tanpa kamu keluar uang satu senpun. Anda pun tersenyum ketika royalti buku mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah Anda dapatkan bila bukunya laku keras. Seperti royalty buku yang telah diterima Pak Jay.

Menulis adalah pekerjaan menuju keabadian. Kita sudah mati, tapi buku kita abadi, misalnya buku karya Buya Hamka.

Tulisan ditolak penerbit mayor karena tulisan kita kurang sesuai dengan standart penerbit, dan biasanya calon penulis baru begitu sangat menggebu gebu dan sangat yakin bukunya akan laku. Rasa percaya diri itu dibangun melalui proses terus-menerus, dan jatuh bangun. Seperti Anda belajar sepeda, awalnya agak susah naik sepeda, tapi kalau sudah bisa ya enak enak saja.

Untuk menerbitkan buku dari kumpulan resume yang telah dibuat, maka segera kumpulkan dari pertemuan pertama sampai terkhir, gabung dalam satu file. Kemudian lihat buku-buku yang sudah diterbitkan Penerbit ANDI, kemudian tawarkan ke Penerbit ANDI.

Dalam menulis, Anda bisa belajar fokus untuk menulis buku motivasi dan kisah inspiratif karena buku ini masih banyak pembelinya.

Pada awal menulis buku, Pak Jay mengirimkan dalam bentuk cetak dan dijilid, setelah itu ia tawarkan ke penerbit, tapi sekarang penerbit yang cari Pak Jay, sehingga ia cukup kirim email saja ke penerbit.

Pak Jay memiliki buku yang pernah ditolak penerbit mayor. Ia tidak putus asa dan terus bersemangat untuk memperbaiki isi bukunya. Pada akhirnya diterima penerbit mayor. Berkat buku itu, Pak Jay keliling Indonesia untuk berbagi ilmu PTK.


Menerbitkan buku di penerbit indie denga biaya sendiri ada fasilitas layout buku layaknya buku yang diterbitkan di penerbit mayor. Tapi Anda perlu keluar uang. Kalau di penerbit mayor, Anda tinggal terima beres. Bahkan cover dan layoutnya sangat menarik sekali, sehingga banyak orang yang beli bukunya.

Saat ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Semakin terus menulis, maka tulisanmu akan semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual.Pasti tulisanmu akan banyak dibaca orang. Aha kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah .Begitu kalimat motivasi yang menggugah dari Pak Jay. Akhir kata resuman pertemuan hari ini “Semoga berhasi!.”

MENULIS OPINI DI MEDIA









Selamat siang readers,
Pertemuan kali ini saya akan sedikit mencuplik kisah Pak Asep Sapa’at beliau mempunya banyak pengalaman dalam menulis di media massa. Langsung saja ,berikut pengalamannya.
Nama saya Asep Sapa'at, tubuh sehat, jiwa kuat, cita-cita ingin jadi orang bermanfaat. Dengan semangat untuk saling belajar, saya ingin sharing tentang pengalaman menulis di rubrik opini dan hikmah Republika.
Pertama, saya awali dengan penjelasan tentang mengikat makna. Istilah mengikat makna dipopulerkan oleh almarhum Hernowo. Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas menulis sebagai cara untuk memaknai hal-hal yang bisa kita lihat, dengar, rasakan, renungi.
Setiap orang memiliki hambatan menulis yang berbeda-beda. Ada hambatan yang disebabkan kesulitan mengalirkan gagasan, ada karena faktor mood, ada pula yang disebabkan karena faktor penguasaan bahasa serta keterampilan menulis. Namun hakikatnya, setiap diri kita bisa menulis jika konsisten mau belajar. Hal yang paling mudah ditulis adalah sesuatu yang dekat dengan diri kita.


Sebelum saya dapat mempublikasikan tulisan di media masa, saya belajar menulis di buku harian. Menulis di buku harian adalah cara ampuh untuk membangun kepercayaan diri untuk menuangkan gagasan.
Berdasarkan kajian salah satu guru menulis saya, Mas Bambang Trimansyah, sifat tulisan terbagi ke dalam 4 sifat, yaitu:
1.       Pribadi tertutup, yakni tulisan bersifat sangat pribadi dan cenderung dirahasiakan agar tidak dibaca atau terbaca oleh orang lain. Tulisan ini biasanya berupa diari, surat-surat pribadi, ataupun catatan-catatan rahasia.
2.       Pribadi terbuka, yakni tulisan bersifat pribadi ataupun sangat pribadi, tetapi dibiarkan ataupun disengaja untuk dibaca orang lain. Tulisan semacam ini muncul akibat perkembangan teknologi informasi, terutama di dunia internet. Tulisan-tulisan di blog, situs, ataupun media sosial cenderung banyak yang bersifat pribadi, subjektif, dan kadang malah dibuat sesuka hati.
3.       Publik terbatas, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi dalam lingkup terbatas, misalnya lingkup komunitas, lingkup keagamaan, ataupun lingkup sesama teman yang saling kenal.
4.       Publik terbuka, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak secara terbuka dan luas meskipun menyasar pada segmen pembaca tertentu. Tulisan ini bebas dibaca siapa pun yang berminat.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmIg251pobAOXuI4fkAz6G3TLFz-qYesiSX6SiNKyZ7qeh5apy9_C-tp04M0Ck5UwpemO5GhWfFYc8RmLllyqd4LnB39lT9mZpE9s0bTeTvXWhAI784-NeBpJR7GbwLP9Za8ws0dlD5OA/s320/Screenshot_5.png

Sifat menentukan untuk siapa tulisan Anda tujukan. Pada sifat pertama Bapak Ibu menulis, tetapi hanya Bapak Ibu sendiri yang membacanya. Sifat 2, 3, dan 4 adalah tulisan yang ditujukan untuk publik sehingga Anda perlu menimbang tujuan penulisan dan pembaca sasaran. Nah menurut Bapak Ibu, menulis di media masa termasuk sifat tulisan yang mana?
Opini merupakan jenis tulisan nonfiksi, ranah jurnalistik, dan sifat tulisannya publik terbuka.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrrc0Bc9wAiDbV1A0YnW6pOQT46KlDWVsGM3G-hsi9qXxL8DGJ2fXMi9Y1G5cEO2eAHq1l-H_x5zedmhTi9n8brZ_1Nk6dstzq8LWLX8HlPbpN064djbpZriu-P6UZeukiZouojelrEsM/s320/Screenshot_6.png
Sebelum bicara lebih teknis untuk membuat tulisan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar tulisan kita memiliki ruh atau jiwanya. Menurut Mas Fauzil Adhim, ada 6 aspek yang harus dikembangkan agar tulisan kita memiliki jiwa. Tulisan akan memiliki jiwa saat penulis memiliki visi hidup (cita-cita dan harapan), melibatkan emosi saat menulis, luas wawasannya (banyak membaca, berdiskusi, jalan-jalan), berbagi pengalaman hidup nyata yang pernah dialami, menggunakan nalar atau logika yang tepat, dan tulisan sebagai hasil perenungan yang mendalam tentang apapun yang akan ditulis.





Menggagas: Berpikir dan Merencanakan
1. Mengumpulkan bahan referensi
2. Menentuian pembaca sasaran
3. Mengembangkan ide menjadi kerangka


Tahapan menyusun draf  yaitu:
1.       Menulis bebas
2.       Memasukkan bahan yang relevan dengan pengalaman diri, pengalaman orang lain, latar belakang ilmu dan pengetahuan yang dimiliki
3.       Memasukkan data dan fakta
4.       Mengembangkan gaya penulisan yang tepat sesuai pembaca sasaran

Menyunting: Memastikan Tidak Ada Kesalahan
Memperbaiki tulisan dari aspek tata bahasa, ketelitian data dan fakta, kesantunan. Tak boleh ada kesalahan elementer.

Menerbitkan
Menentukan publikasi tulisan pada media yang tepat serta pembaca yang tepat. Bapak Ibu dapat memilih media daring atau media cetak.

Di luar teknis menulis yang disampaikan di atas, faktor nonteknis seperti disiplin menulis, tak pantang menyerah mengirimkan tulisan ke media meski sering ditolak dan tak dimuat, juga tak berhenti belajar meningkatkan keterampilan menulis. Jauh sebelum tulisan saya dimuat di rubrik opini dan Hikmah Republika, sejak tahun 2007 saya konsisten menulis di Republika Online. Nah ini jadi faktor nonteknis, punya jalinan silaturahim dengan para redaktur di media masa. Kita mendapatkan informasi dan masukan dari para redaktur agar kualitas tulisan lebih baik dan potensial dimuat di media cetak.

Berikut pertanyaan peserta yang bisa dirangkum:
Bagaimana menyiasati agar waktu menulis dan tema kita sesuai dengan waktu kirim/moment yang tepat?
Kita harus sensitif dengan momentum yang akan terjadi, misal, 6 hari lagi merupakan momen Hari Kebangkitan Nasional. Nah, dari sekarang kita sudah mulai menyiapkan bahan belanja gagasan, tentukan ide yang akan ditulis, dan tuliskan dan kirimkan tulisannya paling lambat sehari sebelum tanggal 20 Mei. Prinsip umum demikian.

Kendala apa yang terbesar yang sering ditemui sampai tulisan selesai?
Hambatan paling mendasar kita sulit mengalirkan gagasan karena gagasan yang mau diungkapkan belum jelas. Persoalan lainnya, kita kekurangan bahan untuk menunjang penyelesaian tulisan kita. Hal lain yang juga kerap terjadi, saat menulis, kita menempatkan diri dalam 2 peran sekaligus sebagai penulis juga editor. Saat menulis, lalu diedit, kita berhenti. Balik lagi ke awal. Terus terjadi seperti itu. Alhasil gagasan kita lewat tulisan tak selesai-selesai.

Apa syarat tulisan opini atau artikel bisa layak cetak di media?
Syarat paling utama adalah ide orisinal dan menarik, data dan fakta yang disajikan sahih, tata bahasa baik, dan sesuai dengan kriteria dari redaktur media cetak.

Bagaimana menyiasati ketidakpercayaan diri atas tulisan yang sudah kita tulis?
Kita coba konsisten menulis dulu di buku harian atau personal blog yang bersifat pribadi. Nanti jika sudah mulai percaya diri, publikasikan tulisan kita. Jangan takut mendapat kritikan dan masukan dari pembaca terhadap tulisan kita. Karena justru hal tersebut bisa menjadi cermin untuk kita terus meningkatkan kualitas tulisan.

Bagaimana mengasah emosi dalam kepenulisan sehingga tulisan kita bisa berkualitas?
Tuliskan sesuatu yang benar-benar pernah dialami oleh diri sendiri. Saya pernah membuat tulisan di rubrik Hikmah Republika saat istri saya wafat. Wah susah memulai kata pertama dan menutup kata terakhir karena saya ada rasa yang hadir menemani saat membuat tulisan.

Apa saja yang menyebabkan tulisan sering ditolak media masa dan bagaimana cara menulis yang bisa diterima media massa?
Tulisan yang pasti ditolak media adalah yang tidak mengikuti kaidah yang sudah ditetapkan media. Misal, kita menulis sesuatu yang bersifat SARA, gagasan terlalu umum, batas maksimal karakter tak diindahkan oleh kita.

Bagaimana ciri artikel yang menarik untuk diterbitkan?
Ide tulisan orisinal, aktual dengan situasi kekinian di masyarakat, tata bahasa baik, data dan fakta penunjang gagasan Bu Sri Budi lengkap dan sahih.

Adakah kriteria pembeda antarmedia cetak untuk bisa menerbitkan suatu tulisan?
Setiap media cetak punya kebijakan sendiri terkait standar tulisan yang akan mereka terima. Misal, tulisan Hikmah Republika tak ada di media cetak lain. Rubrik Hikmah khas punya Republika. Jadi, kita harus pelajari secara cermat rubrik-rubrik yang ada di setiap media cetak agar kita bisa tepat memilih media mana untuk menerbitkam tulisan kita.

Saya mulai menulis dari bentuk fiksi yang diksinya penuh majas dan ketika saya mencoba ke nonfiksi yang ilmiah saya kesulitan. Apa solusinya?
Saran saya, Bapak mulai pelajari tulisan-tulisan opini yang dimuat di media, lalu coba buat tulisan bergenre nonfiksi. Ala bisa karena biasa. Hal paling penting dalam tulisan opini (nonfiksi) adalah tata bahasa baku dan pemilihan diksi yang bermakna lugas.

Bagaimana caranya supaya ide yang sudah kita miliki menjadi sebuah judul yang menarik untuk dibuat suatu tulisan, karena kadang terlintas ide tetapi susah sekali mencarikan judul yang tepatnya untuk ide tersebut.   
Ada beberapa pendekatan saat menulis. Ada yang langsung menetapkan judul, lalu membuat tulisan. Tetapi ada juga yang sebaliknya, buat tulisan dulu untuk menguraikan idenya, judul bagian terakhir. Saran saya, menulis dulu, nanti judul diputuskan terakhir. Boleh minta pendapat ke guru menulis Ibu atau rekan sejawat terkait pilihan judul dari tulisan yang sudah dibuat Ibu.


Apakah artikel dapat diberikan angka kredit dalam penyusunan DUPAK ke IVb?
Saya kurang paham terkait hal ini. Sejauh pemahaman awam saya, tulisan yang dimuat di media masa, makalah yang dimuat dan dipresentasikan di seminar nasional atau internasional, dan makalah yang dimuat di jurnal terakreditasi nasional bisa menyumbangkan angka kredit yang bermanfaat untuk kenaikan pangkat. Saya punya dosen pembimbing yang sangat produktif berkarya tulis, sekali menulis 2 judul makalah untuk satu event seminar nasional. Kalau semua karya tulis didokumentasikan dengan baik, belajar dari kiprah dosen pembimbing saya, beliau naik pangkatnya cepat sekali. Kata kuncinya: konsisten berkarya tulis. Naik pangkat itu bonusnya.



Yups, intinya adalah konsistensi daalam menulis. Kita bisa ambil ilmu yang disampaikan Pak Asep. Dengan menulis terus kita akan mendapatkan tulisan yang baik pula. Sekian.

Mute Le: Puisi: Sedikit Pemikiran Waktu Pergantian

Mute Le: Puisi: Sedikit Pemikiran Waktu Pergantian : Logika Sesaat Terlihat di hadapan Begitu menjemukan Apa yang terlintas di luar sana ...